Minggu, 21 November 2021
Pesantren biasanya identik dengan nuansa Islam. Namun, ada sisi yang berbeda dengan Pesantren Darul Hidayah di Jalan 17 Agustus II nomor 19, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.
Dalam ruangan berukuran 4×3 meter di lantai dua Pesantren Darul Hidayah, dijumpai santri dengan mata fokus dan raut muka serius melelehkan timah dengan solder lalu menyatukan kabel dengan papan sirkuit PCB bulat berwarna hijau.
Seusai komponen elektronika menempel jadi satu, lampu dipasang dan dirakit ke dalam cangkang yang menyerupai bola golf. Lalu di tahap terakhir, lampu dites berpijar tidaknya cahaya dengan disalurkannya aliran listrik.
Selain beribadah, itulah kegiatan santri di Pesantren Darul Hidayah membuat Lampu Mandiri Rakyat atau Limar.
Ketua Yayasan Pesantren Terpadu Darul Hidayah, Asep Hermawan mengatakan, Limar berjalan mulai 2012 lalu. Lampu hemat energi dan ramah lingkungan ini, dibuat berdasarkan kepedulian atas masyarakat yang belum menikmati cahaya lampu dikarenakan tidak tersentuh listrik PLN.
Jika dilihat sekilas, memang lampu Limar memiliki ukuran kecil. Namun dibalik ukurannya, Limar didesain agar mempunyai cahaya yang cerah.
“Limar itu lampu LED, di mana satu ini watt-nya sekitar 1,5 tapi terangnya itu setara dengan 10 watt,” ungkap Asep saat ditemui Minggu (7/11).
Kemudian dalam produksi Limar, bergabung tujuh dari total santri di Pesantren Darul Hidayah. Biasanya, kata Asep satu santri dapat menyelesaikan satu box atau paket setiap harinya.
“Dalam satu minggu itu rata-rata sekitar 15 sampai 20 paketlah,” beber Asep.
Asep menyebut, satu paket Limar berisi lima lampu, obeng, kabel sepanjang 25 meter, saklar, aki, dan solar panel.
Dengan pesantren menggandeng sejumlah perusahaan yang bermurah hati memberi bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR), Limar diberikan kepada warga yang kesulitan memperoleh akses listrik PLN secara gratis.
“Pembiayaannya kami kerja sama dengan perusahaan besar. Satu paket ini pembiayaannya Rp2,4 juta per rumah. Itu pembiayaan lewat CSR, jadi masyarakat gratis,” sebut Asep.
Bisa dikatakan ramah lingkungan, Limar berpijar mengandalkan aki yang tenaganya diisi ulang menggunakan listrik dari solar panel.
“Setiap rumah diberikan lima buah lampu (satu paket), powernya itu pakai aki mobil. Pengecasan aki mobil pakai solar panel,” jelas Asep.
Cahaya Limar sudah mengubah ruang-ruang gelap jadi tempat cerah di Sabang sampai Merauke. Asep mengungkapkan, perjalanan terakhir santri sudah memasang Limar di daerah Poso, Sulawesi.
“Sekitar 50 rumah itu kita pasang (Limar),” ucap Asep.
Bukan hanya mengandalkan CSR dengan perusahaan saja, untuk pembiayaan produksi Limar, pesantren juga telah bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Kita juga sering kerja sama dengan pihak TNI. Karena kami sudah MoU dengan Mabes TNI Cilangkap,” ujar Asep.
Jika bekerjasama dengan TNI, Asep menuturkan nama Limar menjadi Lampu Tentara Rakyat (Lamtera). “Pada saat tahun 2014 awal kami kerja sama dengan mabes TNI, pada saat itu di-branding oleh Pak Gatot (Gatot Nurmantyo) itu di-branding Lemtera. Kalau tidak kerja sama dengan TNI itu namanya Limar,” jelas Asep.
Cara pemasangan Limar ke hunian penduduk yang belum tersentuh aliran listrik PLN yaitu dengan tim santri yang sudah dibentuk akan dikirim ke daerah tujuan.
Teknisnya, santri nantinya juga mengajak dan mengajari warga supaya mengerti pengoperasian Limar.
“Mudah sekali (pemasangan), jadi misalkan ada trouble di lapangan masyarakat dapat mengatasinya,” sebutnya.
Berbicara tentang Pesantren Darul Hidayah, mayoritas santri adalah kaum anak jalanan Kota Bandung. Sang pendiri pesantren, Ki Haji Ajengan Memed berinisiatif untuk membantu kaum marjinal agar bisa memperoleh pendidikan.
Sumber : https://jabar.waspada.co.id/2021/11/lampu-limar-karya-santri-terangi-nusantara/